Senin, Agustus 31, 2009

Mahalkan Harga Rokok!


Rokok adalah produk yang menjadi dilema bagi masyarakat maupun pemerintah. Industri rokok adalah penyumbang terbesar devisa negara. Namun apa gunanya pendapatan negara naik tapi tanggungan pemerintah untuk penderita penyakit karena rokok meningkat?

Salah satu penyebab tingginya konsumsi rokok adalah karena terjangkaunya harga rokok. Harga satu bungkus rokok merek lokal termurah di Singapura adalah Rp 66.600, di Malaysia Rp 13.800, di Thailand Rp 7.900, sedangkan di Indonesia harganya cuma Rp 5.000.

"Rendahnya harga rokok menyebabkan rokok bisa dibeli oleh kalangan miskin sekalipun. Harga rokok yang rendah itu disebabkan karena adanya subsidi dari industri rokok itu sendiri. Kalau mau dicek, harga di bandrol lebih mahal dibanding harga jualnya," tambah kata Dr. Sonny Harry B. Harmadi dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dalam acara seminar Sistem Cukai Tembakau yang Efektif dan Peningkatan Kesehatan Masyarakat di Hotel Borobudur, Jakarta 28 Agustus 2009.

Oleh karena itu, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia adalah dengan menerapkan cukai yang tinggi untuk rokok secara drastis bukan bertahap.

"Yang selama ini dilakukan pemerintah adalah menaikkan cukai perlahan-lahan, dan situasi tersebut dimanfaatkan oleh industri rokok untuk mengadaptasi kebijakan pemerintah dengan melakukan perubahan strategi penjualan atau teknologi," jelasnya.

Cukai hanya efektif untuk mencegah para perokok pemula tapi tidak untuk yang terlanjur merokok. Padahal semua orang tahu rokok tidak baik untuk kesehatan.

"Di dalam asap rokok terkandung 44.000 zat kimia, aditif dan toksin dan jumlahnya diperkirakan terus meningkat tiap tahunnya," ujar Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan RI, Dr. Yusharmen Dcomm, MSc.

Meskipun sudah ada ancaman dan sanksi untuk para perokok, tapi hingga kini jumlahnya tidak berkurang bahkan meningkat. "Keinginan berhenti merokok sebaiknya berasal dari ruhnya daripada karena ancaman," ujar Yusharmen.

Satu cara untuk menghentikan para perokok jka meniru negara thailand adalah dengan teknik demoralisasi. "Dengan diberlakukan demoralisasi yaitu memunculkan perasaan malu kalau punya rokok di saku karena ada gambar yang menjijikan, orang akan berpikir dua kali untuk beli rokok karena rokok dianggap barang yang memalukan," ujarnya.

Dalam waktu dekat ini, Depkes RI juga akan mengeluarkan alat scanner untuk para perokok sehingga dapat menentukan sanksi untuk pelanggaran karena merokok.

"Kita akan bekerja sama dengan kepolisian untuk mengetahui kadar nikotin dalam darah, jadi bisa ditentukan sanksinya tergantung seberapa besar kandungan nikotinnya dalam darah," ujar Yusharmen.

*sumber; http://health.detik.com/read/2009/08/31/103838/1192922/775/mahalkan-harga-rokok

Sabtu, Agustus 29, 2009

Perempuan Perokok Lebih Berbahaya

Jumlah perempuan perokok di Indonesia meningkat 5 kali lebih banyak dibanding pria. Ada tren jumlah perokok perempuan terus meningkat sedangkan perokok laki-laki stabil.

Asal tahu saja, setiap tahunnya 1,5 juta tahun orang meninggal dunia karena rokok dan 25.000 orang yang meninggal� diantaranya adalah perokok pasif.

Di Indonesia, perokok lelaki sebanyak 65,9% dan 4,5% perempuan. Data Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan RI, jumlah tersebut terus naik, terutama perokok perempuan.

"Untuk perokok pria, jumlahnya cenderung stabil, tapi anehnya untuk perempuan meningkat 5 kali lebih banyak, dan jumlahnya diperkirakan terus meningkat tiap tahunnya," ujar Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan RI, Dr. Yusharmen Dcomm, MSc dalam acara seminar Sistem Cukai Tembakau yang Efektif dan Peningkatan Kesehatan Masyarakat di Hotel Borobudur, Jakarta, 28 Agustus 2009.

Menurutnya hal itu dipengaruhi oleh gaya hidup yang tidak sehat di masyarakat saat ini. Dan perempuan lebih banyak terpengaruh oleh lifestyle yang tidak baik dibanding lelaki.

Lifestyle seperti pergaulan dengan sesama perokok dan seringnya mengunjungi tempat-tempat hiburan yang banyak dikunjungi kalangan perokok kurang lebih gampang mempengaruhi wanita.

Dampak konsumsi rokok terhadap kesehatan tidak langsung teramati tapi membutuhkan waktu yang lama. Munculnya berbagai simptom penyakit akibat merokok baru akan terlihat setelah 25 tahun, seperti jatung, kanker, kencing manis dan lainnya.

"Semakin dini seseorang mengenal rokok, semakin cepat juga terkena penyakit-penyakit itu," ujar Yusharmen.

Berdasarkan data epidemiologi dari negara maju, diasumsikan bahwa setengah dari 57 juta penduduk di Indonesia akan meninggal akibat berbagai penyakit yang terkait dengan konsumsi rokok.

Jika jumlah perokok perempuan di Indonesia terus menigkat dari tahun ke tahunnya bahkan dengan jumlah yang berlipat ganda, apa jadinya anak-anak penerus generasi bangsa yang lahir dari rahimnya?

"Pembangunan Indonesia selama 30 tahun lebih yang susah payah dilakukan pejuang negara sebelumnya hancur karena satu jenis barang, yaitu rokok. Sungguh celaka," ujar Suahasil Nazara, PhD, kepala Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Eonomi Universitas Indonesia.

*sumber; http://health.detik.com/read/2009/08/29/121656/1192114/763/perempuan-perokok-di-indonesia-naik-5-kali-lipat

Jumat, Agustus 28, 2009

Buka Puasa Ramadlan dengan Semangka Busuk

Sekitar tahun 80-an. Sebenarnya waktu itu kami masih duduk di sekolah dasar. Kebetulan kami terlahir dari keluarga dan lingkungan yang cukup agamis. Kami sering bepergian bertiga, jalan-jalan bertiga, bahkan makan-makan pun bertiga.

Meski kami waktu itu masih SD, pelajaran puasa sudah biasa ditanamkan oleh keluarga untuk selalu puasa penuh selama sebulan Ramadlan. Kami berusaha selalu taat menjalankan ibadah di bulan suci penuh rahmah, barakah dan ampunan ini.

Ramadlan di tahun 80-an tersebut sedang memasuki bulan di mana kemarau sedang teriknya. Karena kami sering berpetualang bertiga, tidak salah juga kami jalan-jalan mengelilingi daerah yang sedang diadakan panen semangka. Sambil menyusuri jalanan yang penuh dengan kebun semangka, kami membayangkan betapa enaknya nanti kalau berbuka jika diawali dengan menyantap buah semangka yang segar dan menggoda.

Rupanya hawa nafsu mengatakan lain, “mendingan sekarang saja makan buah semangka segarnya, daripada nanti kehabisan dan tidak kebagian, rugilah kita semua tidak bisa merasakan kenikmatannya”. Begitulah kira-kira hawa nafsu berbicara.

Mungkin perasaan hati kami bertiga pada saat itu tidaklah jauh berbeda dalam membayangkan nikmatnya semangka. Keberanian untuk melanggar komitmen berpuasa rupanya terkalahkan oleh rayuan buah semangka tersebut. Salah satu dari kami mengajak membeli dan menikmatinya secara langsung. Awalnya Saya dan temen saya yang satunya lagi agak ragu-ragu untuk mengatakan iya, tapi…ya itu tadi godaan buah semangka dan hawa nafsu yang besar mengalahkannya.

Hari itu kami sukses menikmati kesegaran buah semangka yang membatalkan puasa kami.

Sore hari, kami biasa pulang ke rumah masing-masing, dan tetap berlaga kalau kami seperti orang yang sedang berpusa kebanyakan. Orang tua dan keluarga kami tidak ada yang tahu. Sehingga besoknya pun kita coba mengulanginya lagi, dan tidak ketahuan pula. Hingga muncul niatan untuk yang ke tiga kalinya.

Nah…pas yang kegiatan yang ke tiga kalinya inilah, kami mengalami hal yang mengecewakan, ternyata semangkanya pada busuk. Kami mencoba memilih yang lain ternyata busuk juga. Akhirnya kami menyerah.

Sore harinya, Kami pun pulang kembali sambil berdiskusi. Mungkin ini adalah peringatan dari Allah, karena kita telah membatalkan puasa dengan cara yang tidak jujur. Lho…iya dong sudah berdosa tidak berpuasa ditambah lagi berbohong pada keluarga mengaku tetap berpuasa.

Ternyata banyak cara yang Allah dapat tunjukkan pada kita agar segera bersadar diri dan segera memperbaiki kesalahan yang kita perbuat. Alhamdulillah Allah masih memberikan hidayah-Nya pada kami, sehingga kami segera tersadar dan bertaubat untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi.

Wallahu’alam.

Sabtu, Agustus 22, 2009

Tegakkan Jamaah Islamiyah!

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (Qs. Ali Imran ayat : 103)

Akhir-akhir ini islam begitu terpojok. Seolah-olah setiap kejadian yang berkaitan dengan terror, pelakunya adalah orang islam. Islam sebagai sebuah agama terbesar di Indonesia dan terbesar kedua di dunia seakan-akan sebagai penyebab dari semua teror yang terjadi. Para Mubaligh islam begitu sulitnya untuk menyebarkan ajaran dakwah, meski sebenarnya dakwah yang diajarkannya sesuai dengan tuntunan Al-qur’an dan Al-hadits.

Meski ajaran yang dibawakan oleh Mubaligh tersebut sudah sesuai dengan Al-qur’an dan Al-hadits, tetapi di masyarakat banyak sekali terjadi pertentangan. Pertentangan ini terjadi terkait pemberitaan negatif yang begitu massif dari berbagai media televisi, media cetak maupun dunia maya (internet). Pemberitaan yang tidak berimbang.

Kecurigaan masyarakat terhadap ajaran islam yang menurut sebagian masyarakat adalah sesat sebagai pemicu. Para orang tua melarang anaknya berkumpul dalam sebuah majlis pengajian. Komunitas Masjid terpinggirkan. Tetangga yang pandai mengaji dan alim dijauhi sekaligus juga dicurigai. Ironisnya kegiatan yang mendikte tersebut dilakukan oleh orang islam terhadap ummat islam itu sendiri. Sekarang begitu sulitnya islam berkembang. Agama dijauhi, moral beragama masyarakat rontok.

Patut diselidiki sebenarnya siapa di balik semua terror yang terjadi. Yang mirisnya mengatasnamakan agama yaitu islam. Jikalau kita pandai, terror tidak akan terjadi. Logikanya orang islam sendiri tidak akan merusak agamanya sendiri. Sepertinya terdapat “dalang” yang bermain di belakang ini. Mencuci otak ummat islam yang pengetahuan islamnya masih “dangkal”. Menukil ayat Al-qur’an dan menyelewengkan tafsirnya sebagai sesuatu yang jitu untuk mendoktrin ummat islam yang “kurang pandai” tersebut.

Kepastian siapa “dalangnya”, silahkan Pemerintah dengan Polisi anti terornya bekerja membuktikannya, dan kita sebagai rakyat juga mendukung upaya tersebut.

Apabila kita menilik para mubaligh yang sekarang banyak bergerak dalam dakwah di masyarakat adalah sesuai dengan tuntunan islam, mungkin hanya beberapa saja di antaranya yang mengajarkan tentang “kekerasan”.

Banyak terjadi kekeliruan informasi di masyarakat awam. Mereka menilai simbol islam yang mengenakan jubah dan celana putung di atas mata kaki sebagai salah satu anggota jaringan teroris. Ini penyesatan informasi yang rancu. Padahal jika masyarakat awam memahami ajaran syari’at islam secara baik, kekeliruan anggapan tersebut tidak akan terjadi. Cara berpakaian demikian diajarkan oleh sang pembawa cahaya kebenderangan ummat yaitu Nabi Muhammad.

Tentang kebenaran Nabi Muhammad dapat dilihat di sini http://public.kompasiana.com/2009/05/15/berita-kebenaran-nabi-muhammad-saw-dalam-al-qur%E2%80%99an-dan-al-kitab/

Selayaknya kita yang mungkin lebih memahami tentang ajaran islam bisa memberikan pengertian yang lebih bijak mengenai ajaran islam yang sesungguhnya. Islam sangat mengajarkan kedamaian. Agama yang “Rahmatan lil ‘alamin”. Islam sangat menentang perilaku bunuh diri dan membunuh orang lain tanpa sebab yang dapat dibenarkan oleh Al-qur’an dan Al-hadits.

Jamaah Islamiyah yang benar adalah membangun aqidah dan akhlaq yang terpuji, bersama dalam ikhwanul muslimin (Ukhuwah Islamiyah), bersatu dalam naungan Al-qur’an dan Al-hadits. Bukan menyebarkan ketakutan di antara ummat manusia. Kita semua menentang bentuk terror dan kejahatan terhadap apa dan siapapun. Tugas seorang muslim dengan muslim lainnya adalah harus membangun kembali Jamaah Islamiyah. Jamaah yang sempat terkoyak oleh isu terorisme.

Sebagai ummat islam yang berakhlaq mulia, janganlah mudah terpicu oleh isu dari setiap hal yang menciderai nilai agama itu sendiri. Mari bersatu padu menegakkan Jamaah Islamiyah yang Rahmatan lil ‘alamin. Tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak berimbang. Mengejawantahkan ajaran agama dengan sopan, baik, dan bijak juga kaffah adalah modal utama untuk membangun Jamaah Islamiyah yang sempurna serta islami sesuai Al-qur’an dan Al-hadits.

“… dan tolong menolonglah kamu sekalian dalam mengerjakan kebajikan dan ketakwaan …” (Qs. Al-Maidah ayat : 2)

Wallahu ‘alam…Peace Ajah…

Kamis, Agustus 20, 2009

Obrolan Tiga Bayi Kembar

Dalam suatu perut seorang Ibu yang hendak melahirkan, terjadilah sebuah obrolan atau diskusi di antara para calon bayi yang akan terlahir kedunia ini. Obrolan tersebut mengenai cita-citanya masing-masing ketika nanti sudah terlahir di dunia. Kebetulan sang calon ibu tersebut mengandung tiga bayi kembar.

Anggap saja namanya A, B dan C. Obrolannya kira-kira begini :

A : Saya bingung kenapa rumah kita yang sekarang sempit amat ya?...ntar kalau saya dah terlahir ke dunia dan tumbuh besar, saya pengen jadi Arsitek, biar bisa bangun rumah yang gede, mewah dan lega, nggak sempit kaya sekarang.

B : Saya juga pengen punya PLN, biar rumah saya nanti bisa terang terus, nggak kaya di sini gelap banget.

C : Kalau saya pengen jadi Detektif aja ah...

Si A dan B bingung, mereka kompak bertanya ; "Kenapa harus jadi Detektif?"...

C : Saya pengen menyelidiki siapa bocah kecil berhelm yang suka keluar masuk rumah kita sambil nonjokin kepala kita, pake nyiram kepala kita lagiii...jadi basah deh...

Semuanya bilang Ooooooo....

Kamis, Agustus 13, 2009

Jangan Mau Jadi Perokok Pasif !!!....

Larangan merokok di tempat umum bukan berarti “memusuhi” para perokok dengan membatasi hak orang untuk merokok. Melainkan merupakan bagian dari sikap saling menghargai antara perokok dan nonperokok yang memang berhak atas udara bersih dan ingin hidup sehat.

Siapa sih perokok pasif? Perokok pasif adalah mereka yang tidak merokok, tapi terpaksa mengisap asap rokok dari para perokok yang ada di dekatnya. Ironisnya, wanita dan anak-anak merupakan korban terbanyak yang terpaksa menjadi perokok pasif. Mereka inilah yang sebetulnya paling menderita dibanding si perokok sendiri. Pasalnya, banyak perokok yang tidak benar-benar mengisap dalam-dalam rokoknya sehingga asap yang dikeluarkannya jauh lebih banyak dan asap inilah yang terisap orang di sekitarnya. Bahaya asap rokok bagi perokok pasif ini semakin berlipat ganda jika para perokok aktif merokok di ruang tertutup.

AROL (Asap Rokok Orang Lain) adalah asap yang keluar dari ujung rokok yang menyala atau produk tembakau lainnya. AROL terdiri atas asap utama (main stream) yang mengandung 25% kadar bahan berbahaya dan asap sampingan (side stream) yang mengandung 75% kadar bahan berbahaya. Jadi, perokok pasif mengisap tak kurang dari 75% bahaya berbahaya ditambah separuh dari asap yang diembuskan keluar oleh si perokok!

Sebenarnya semua orang tentu sudah mengetahui bahaya merokok. Sayangnya, hal ini masih sangat diabaikan. Rokok dan tembakau telah menjadi epidemi global yang mengakibatkan 1 orang meninggal setiap 6 detik. Rokok juga menjadi 7 dari 8 penyebab kematian utama di dunia. Global Youth Tobacco Survey (GYTS) pada anak sekolah usia 13-15 tahun (1999-2006) di 132 negara menunjukkan 56% anak sekolah di dunia terpapar AROL di tempat-tempat umum.

Sementara laporan GYTS 2006 di Indonesia bahkan lebih tinggi lagi, yakni 81% anak sekolah terpapar asap rokok di tempat-tempat umum.
Hasil uji klinik yang melibatkan hampir 5.000 orang dewasa berusia lebih dari 50 tahun menunjukkan, paparan rokok kepada para perokok pasif meningkatkan risiko terserang demensia. Selain itu juga meningkatkan risiko kanker paru, diabetes, penyakit kardiovaskular, stroke, dan kematian pada perokok pasif. Bukan cuma itu. Tim peneliti yang diketuai Prof. David Llewellyn dari Universitas Cambridge juga menemukan, perokok pasif yang bergaul dengan para perokok memperlihatkan hasil tes kognitif yang buruk.

Budaya sungkan
Celakanya, rumah dan kantor adalah dua dari sekian banyak “cerobong asap” bagi para wanita dan anak-anak sebagai perokok pasif. Suami atau anggota keluarga lain yang merokok seenaknya di dalam rumah, maupun rekan kerja yang merokok dalam ruangan selagi bekerja atau rapat, masih kerap dijumpai. Belum lagi menghadapi para perokok yang menunjukkan sikap cuek di angkutan umum. Padahal dalam Pembukaan UUD 1945 jelas-jelas tertera kalimat yang menyatakan bahwa negara wajib melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Termasuk melindungi kesehatan rakyatnya, dalam hal ini perokok pasif.

Sayangnya, menegur perokok bukanlah urusan gampang. Di satu sisi, perokok pasif masih dihinggapi budaya sungkan untuk menegur. Sementara di sisi lain, tak jarang justru si perokok yang ditegurlah yang merasa tersinggung, bersikap cuek, memelototi, atau malah menyalahkan si perokok pasif mengapa berada di dekatnya. Mestinya, yang merokoklah yang harus tahu diri untuk segera mematikan rokoknya atau merokoklah di luar ruangan yang berudara bebas dan sirkulasi udaranya bagus.

Berangkat dari keprihatinan ini, ada baiknya menggalakkan kampanye “budaya malu merokok di tempat umum”. Akan lebih efektif bila kampanye ini digalakkan bersamaan dengan kampanye "jangan takut menegur mereka yang merokok di tempat umum”. Sebagai sosok yang paling banyak terkena imbasnya, sudah seharusnya perokok pasif meminimalisasi efek-efek negatif terhadap kesehatan dirinya yang bukan diakibatkan oleh dirinya sendiri.

Yang bisa Anda lakukan:
* Selalu katakan pada diri sendiri, "Saya berhak mendapatkan udara yang bersih!"
* Jika di kantor belum ada aturan khusus larangan merokok di ruang kerja, jangan takut untuk mengusulkan kepada pimpinan demi kepentingan bersama. Bukankah jika karyawan sehat, perusahaan juga yang diuntungkan?
* Jika ada anggota keluarga yang merokok, buatlah aturan tegas tidak merokok dalam rumah. Mintalah mereka merokok di teras atau taman sehingga asap rokok langsung keluar ke udara bebas.
* Jauh lebih baik membujuk anggota keluarga untuk tidak merokok. Misalnya dengan memberi gambaran seandainya terkena penyakit serius yang membutuhkan biaya pengobatan tidak sedikit. Cara ini cenderung lebih ampuh dibanding menakut-nakuti mereka akan bahaya kematian akibat merokok.
* Tegurlah dengan sopan orang yang merokok di kendaraan umum ataupun di fasilitas umum lainnya. Ini jauh lebih efektif ketimbang menyindirnya dengan berpura-pura batuk atau mengibaskan tangan.
* Jika si perokok marah karena tidak berkenan ditegur, ya sudah, tinggalkan saja. Tetapi bukan berarti kita lantas kapok. Bagaimanapun, kita tetap harus bersikap asertif untuk ikut “mendidik” masyarakat.
* Jika Anda tak punya keberanian untuk menegur si perokok, mintalah bantuan orang lain yang lebih disegani, semisal satpam atau pengelola gedung/ruangan tersebut, untuk menegur si perokok.

Narasumber: Dr. Widyastuti Soerojo, MSc., dari Tobacco Control Support Centre - Ikatan Ahli Kesehatan Masyrakat Indonesia (IAKMI)

Subjektivitas Membaca Puisi

Ini merupakan rangkaian terakhir dari 5 tulisan saya mengenai kesusastraan Indonesia. Untuk hanya sekedar mengingatkan kembali, tulisan yang sebeleumnya yaitu :
1. Subjektivitas—Objektivitas Esai, dapat diklik di sini http://public.kompasiana.com/2009/08/11/subjektivitas%E2%80%94objektivitas-esai/
2. Fenomena Kritik…, dapat diklik di sini http://public.kompasiana.com/2009/08/07/fenomena-kritik/
3. Mengembangkan Khazanah Sastra, dapat diklik di sini http://public.kompasiana.com/2009/08/07/mengembangkan-khazanah-sastra/
4. Minimnya Apresiasi Sastra dalam Dunia Pendidikan dan Media, dapat diklik di sini http://public.kompasiana.com/2009/07/13/minimnya-apresiasi-sastra-dalam-dunia-pendidikan-dan-media/

Puisi pada hakikatnya adalah penciptaan yang lahir dari sebuah perasaan dibarengi dengan gaya pemikiran penulisannya yang kemudian dibalut bersama kreatifitas imajinasi juga metafora. Penyair adalah seorang spesialis. Puisi-puisi yang ditulisnya dibaca atau tidak oleh khalayak umum bukanlah suatu persoalan yang besar. Namun demikian yang lebih terpenting bagi seorang penyair dalam menuliskan buah perasaanya ke dalam bait-bait puisi adalah kepuasan batin, kepuasan yang mungkin akan sulit dinikmati oleh orang biasa yang bukan pecinta puisi. Kepada para penyair janganlah pernah merasa miris terhadap berbagai dinamika yang berkembang saat ini. Memang terkadang pencapaian karya puisi hanya dapat dinikmati dan dihargai secukupnya oleh segelintir kalangan yang paham akan sebuah instuisi puisi. Tak jarang pula menjadi setombak menara gading yang tersingkirkan ke dalam splending isolation. Mari kita berbesar hati saja ibaratnya puncak pohon yang menjulang tinggi, benar akan merasakan sepi sendiri di udara terbuka, yang daun-daunnya harus mampu bertahan menghadapi terpaan, hujatan, angin dan topan.

Merenungi berbagai kecamuk yang merengek dalam belantara jiwa, penulis puisi dituntut untuk dapat mengekspresikan segala instuisi batinnya menggelorakan imajinasinya, menguraikannya ke dalam bait-bait puisi. Puisi diharapkan mampu menerobos formalisme bahasa yang pada gilirannya nanti membuatnya menjadi ekspresi yang personal sekali.

Kata-kata yang dilepaskan dari tautan-tautan resmi khasanah perbahasaan dengan ikatan maksud dan maknanya, sehingga kata-kata yang tertuang pada guratan puisi itu dibebaskan untuk mencari dan menunjukkan maknanya sendiri. Seorang intelektual dalam bidang sastra yang selalu berpikiran clear dan distinct.

Ignas Kleden dalam “Godaan Subyektifitas”, (Horison, Januari 2004, hal-29-30) menggaris bawahi “Kredo”nya Sutardji Calzoum Bachri “Sutardji Calzoum Bachri, memaklumkan pembebasan atau dekolonisasi kata-kata dari penjajahan konsep-konsep. Kata-kata bukanlah para budak yang harus memikul beban pengertian kian kemari, melainkan adalah mahluk merdeka yang dapat dan harus menentukan dirinya sendiri. Penyair bukanlah orang yang memakai kata-kata sebagai alat, melainkan orang yang bergaul akrab dengan kata-kata yang dibiarkannya bergerak bebas. Penyair tidaklah mendiktekan perintah atau instruksi tentang apa yang harus dimaknai oleh sebuah kata, melainkan membantu dan merangsang kata tersebut untuk menemukan maknanya sendiri atau mencopot kembali makna tersebut sekendak hatinya. Kenyataan ini dilukiskan oleh penyair Sutadji Calzoum Bachri dengan cara yang demikian radikal, sehingga penyair tidaklah dianggapnya sebagai pencipta makna kata-kata, tetapi hanya menjadi medium perjumpaan kata-kata dengan maknanya. Mungkin karena paham seperti inilah Sutardji Calzoum Bachri berpendapat bahwa fungsi puisi kurang lebih sama dengan fungsi sebuah mantra dalam komunitas-komunitas tradisonal. Kalau seorang dukun atau seorang perantara menjadi medium bagi kata-kata untuk menemukan kekutannya yang performatif, maka penyair menjadi medium bagi kata-kata untuk menemukan kekuatan ekspresifnya. Keberhasilan mantra diukur berdasarkan efektifitas bahasa, sedangkan keberhasilan puisi diukur berdasarkan simbolisme bahasa”.

Bahasa puisi mengedepankan kebebasan, sebebas tujuan pemaknaannya yang bergelayut kesana kemari, yang menyebabkan pembacanya pun bebas menafsirkan puisi dari sudut manapun yang pembaca sukai dan kehendaki. Seorang penyair seyogyanya memproduksikan makna, makna puitis dalam puisi-puisi yang bisa diimplementasikan dalam wacana umum yang lebih luas, bebas, tak terikat. Menciptakan sebuah puisi tidak bisa didasarkan pada sutu desain, kerangka perencaan, seperti membuat miniatur gedung-gedung pencakar langit, akan tetapi puisi muncul karena proses yang telah matang dalam diri seorang penyair.

Faktor subyektifitas inilah yang paling mempengaruhi kualitas puisi-puisinya. Jika diibaratkan dengan bunga, pupuk, air dan perawatan dari penanamnya selalu diperlukan oleh bunga, agar waktu mekarnya kembang dapat mengahasilkan dan menyebarkan wangi yang semerbak. Kalau ada penulis puisi yang menuliskan puisinya dengan cara dan mencoba mendesain rencana puisinya dengan menggunakan metode tertentu, seperti halnya menulis sebuah karangan ilmiah, pastilah kesannya akan lucu dan ditertawakan para pecinta puisi.

Boleh saja kita menengok, mempelajari, memahami, mengerti, memafhumi beberapa kaidah penulisan karangan sastra, yang mungkin pernah diperoleh di sekolah menengah (SMP/SMU) atau mungkin di perguruan tinggi, melalui mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia atau apapun namanya yang berkaitan dengan sastra. Oleh karena itu mari untuk sejenak saja kita menilik beberapa kaidah penulisan sastra tersebut, seperti tema, diksi, irama, enjabemen, majas, rancang bangun dan sebagainya, ini berlaku untuk penulisan puisi. Atau, tema, alur penokohan, latar, sudut pandang dan sebagainya juga, untuk menulis sebuah cerpen dan novel. Akan tetapi hal tersebut di atas bukan menjadikan suatu keharusan dalam meuliskan puisi dengan menggunakan metode-metode tersebut. Kita bisa saja lepas bebas dari semua kaidah itu, apabila kita sudah mampu mengekspresikan, mengimplementasikan daya kreatif dan imaji kita untuk mencipta dan melahirkan sebuah puisi yang dapat dinikmati dan dirasakan oleh para pembaca dan pecinta puisi lainnya. Intinya proses kematangan dirilah yang akan banyak mempengaruhi berbobot tidaknya puisi itu.

Banyak sekali penyair yang mengungkapkan dan melakukan pemilihan kata-katanya dengan menghadirkan frase yang memiliki makna yang berlainan dengan makna harfiahnya sendiri. Untuk mendukung pernyataan ini saya gambarkan sebuah contoh, seperti : “Derai rintik bercakap dengan mendung”, ambilllah kata “rintik” dan “bercakap”, jika kata-kata itu diartikan satu-persatu, maka akan segera ditemukan makna kamusnya (leksikal) dan itu adalah kata denotatif. Akan tetapi ketika kata-kata itu menjadi suatu rangkaian kata yang satu, jadilah ia frase konotatif yang maknanya tidak lagi leksikal, namun makna tersebut hanya dapat ditemukan dalam puisi itu sendiri (gramatikal).

Makna gramatikal ini terbentuk karena adanya kiasan, yang mana berfungsi untuk menghadirkan sebanyak mungkin kemungkinan makna dari deretan kata atau ungkapan atau juga sebuah susunan kalimat. Dalam puisi kita akan sering menjumpai metafora dan simile. Metafora merupakan suatu bentuk perungkapan perbandingan yang bersifat implisit, di mana makna yang sebenarnya akan tersembunyi di dalam makna harfiahnya atau hanya tersirat. Sedangkan simile merupakan suatu bentuk perungkapan perbandingan yang bersifat eksplisit, yang mana biasanya penggunaan kata-katanya menggunakan konjungsi (semisal, seperti, sebagai, serupa). Sekedar menyebutkan beberapa contoh penggunaannya, dan hal ini pula seringkali ditandai dengan penggunaan morfem se.

Pada dasarnya kiasan yang baik sangat ditentukan oleh bagaimana seorang penyair membangun bentuk-bentuk perbandingan untuk mencapai efek puitis yang dikehendakinya, seperti mendayagunakan metafor dan simile tersebut di atas.

Kembali pada topik bahasan kita, yaitu mengenai sosok subyektifitas puisi yang menitikberatkan pada peran kejiwaan yang matang pada diri seorang penyair dalam menghamparkan puisinya. Kita akan coba kembali mengutip tulisan Sutadji Calzoum Bachri, “Penyair dan Telornya” (Bentara, Kompas, 2 November 2001, hal-44) yaitu : “Puisi sebagaimana halnya imajinasi adalah upaya pembebasan dari realitas, karena itu dia membutuhkan realitas. Eksistensi imajinasi hanya mungkin bila terpaut dengan realitas”.

Maaf mungkin saya hanya sedikit mengulas tentang teori-teori penulisan puisi yang hanya sekedarnya saja itu, karena tidak lain ini merupakan keterbatasan saya dalam memahami teorinya, jika para pembaca memiliki teori atau apapun yang berlebih, bolehlah kiranya berbagi, memberikan sumbangsihnya kepada saya.